Kembali Terulang, Sejarah Gempa Majene dan Mamuju Sulawesi Barat

  • Rabu, 20 Januari 2021 - 10:55:13 WIB
Kembali Terulang, Sejarah Gempa Majene dan Mamuju Sulawesi Barat

 

Kejadian gempa terjadi di Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021) pukul pukul 01:28:17 WIB.

Gempa 5,9 SR dan 6,2 SR yang mengguncang wilayah kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat ternyata kejadian yang berulang.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa yang terjadi di Majene Sulawesi Barat, merupakan gempa ulangan 1967 karena Mamuju Thrust yang masih sangat aktif. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan dari gempa 1967 perhitungannya pengulangan gempa dapat terjadi pada 2019.

Dalam catatan BMKG episenter gempa di Kabupaten Majene Sulbar pada 15 Januari 2021 sangat berdekatan dengan sumber gempa yang memicu tsunami pada 11 April 1967 magnitudo 6,3 di daerah Polewali Mandar.

Setelah itu dua tahun kemudian yakni 23 Februari 1969 terjadi gempa dengan episenter yang berdekatan dengan gempa 14 dan 15 Januari 2021.

Gempa 23 Februari 1969 tersebut terjadi di Majene dengan kekuatan magnitudo 6,9 pada kedalaman 13 KM. 

Setelah itu, gempa dengan episenter yang sama juga terjadi pada 8 Januari 1984. Gempat terjadi di Mamuju dengan magnitudo 6,7 yang mengakibatkan banyak rumah rusak. 

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, gempa di Majene, Sulawesi Barat, berpotensi memunculkan tsunami.

Menurut Dwikorita, potensi terjadinya tsunami jika terjadi gempa susulan. Dwikorita mengatakan, jika gempa susulan terjadi dan pusat gempanya berada di pantai, maka tsunami bisa saja terjadi.

"Kalau pusat gempa ada di pantai, memungkinkan terjadinya longsor bawah laut, dapat pula berpotensi tsunami jika ada gempa susulan yang membuat longsor bawah laut," ujar Dwikorita melalui virtual, Jumat (15/1/2021).

Maka dari itu, Dwikorita mengimbau kepada seluruh masyarakat sekitar untuk menjauhi bibir pantai jika terjadi gempa susulan. Dwikorita meminta kepada masyarakat yang berada di pinggir pantai untuk tidak menunggu adanya peringatan dini tsunami jika terjadi gempa susulan.

"Jadi, tidak hanya menjauhi bangunan yang rentan, tapi apabila kebetulan masyarakat yang ada di pantai, dan merasakan guncangan gempa lagi, segera jauhi pantai, jangan menunggu peringatan dini tsunami," kata dia.

Maka dari itu, dia meminta kepada pihak pemerintah setempat untuk segera menyiapkan jalur dan tempat evakuasi darurat.

"Akan lebih baik jika disiapkan jalur dan tempat evakuasi sementara. Demikian yang saya sampaikan, meski kita harus tetap tenang dan waspada," ujar Dwikorita.

 

 

 

  • Rabu, 20 Januari 2021 - 10:55:13 WIB

Berita Terkait Lainnya

Tidak ada artikel terkait